0

Tumpukan CV

Kemarin, salah seorang teman mengajakku ke sebuah job fair. Karena aku penasaran dan ingin lihat-lihat langsung suasana job fair, ikutlah aku dengannya.

Kami hanya berangkat berdua. Aku pikir dia juga sama sepertiku, cuma niat lihat-lihat aja. Ternyata dia sudah menyiapkan CV dan memasukkan lamaran di beberapa perusahaan. Sembari dia mengantri untuk mengisi lamaran, aku sibuk melihat dan menikmati suasana job fair yang riuh dan sumpek.

suasana antrian di salah satu stand perusahaan

suasana antrian di salah satu stand perusahaan

Mungkin karena aku sudah tahu dan menetapkan diri ingin seperti apa aku nanti, jadi aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaran-tawaran dari perusahaan-perusahaan itu. Pada dasarnya, lowongan untuk lulusan biologi memang sangat sedikit. Kalau orang lain di job fair itu berusaha untuk mencari tahu profil perusahaan dan memang berniat mencari lowongan kerja, sebaliknya aku malah menikmati suasana itu dan berniat menuangkannya dalam tulisan. hehe.

Di antara suasana job fair itu, ada satu pikiran terlintas, ketika aku melihat tumpukan CV yang dikumpulkan para job seeker itu. Buatku, CV lebih dari sekedar identitas. Tiga atau mungkin empat lembar CV itu cukup menggambarkan trackrecord kita selama ini. Dalam waktu yang singkat, para HRD membaca tumpukan CV itu dan langsung menyaringnya. CV yang dinilai oke akan berlanjut dan CV yang tidak cukup akan masuk ke pembuangan sampah. Menyadari realita itu, aku langsung merefleksikan pada diriku sendiri yang rasanya pencapaianku masih belum maksimal sejauh ini. Apa yang tertuang nanti di CV-ku rasanya itu adalah hal yang biasa yang rata-rata mahasiswa pun memiliki.

Hmm…sepertinya inilah persaingan yang sesungguhnya. Karena kita tidak bisa menebak siapa saingan kita sebenarnya dan tidak bisa mengukur kemampuannya. Aku jadi semakin semangat untuk semakin menempa diri dengan apa yang ingin kutekuni nanti.

Advertisements
0

Let Allah do the rest :D

Segala perbuatan itu mengandung konsekuensi. Segala yang terucap tidak bisa berbalik kembali. Dan adalah kewajiban manusia untuk menjalani konsekuensi tersebut.

Beberapa hari belakangan, aku telah mengambil langkah besar dalam hidupku. Setelah sebuah rasa yang kucoba pendam untuknya selama beberapa tahun, dan kucoba untuk mengingkarinya, akhirnya kuluapkan semuanya. Tidak mudah untuk melawan rasa takutku. Tapi karena kuyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan aku tidak mengharapkan apa-apa dari semua ini, jadilah kuambil langkah besar itu.

Kupikir segalanya biasa saja. Bahkan kupikir tidak akan terjadi apa-apa. Karena kukira semuanya telah usai. Ternyata aku sama sekali salah. Rasa itu berbalas. Sangat jauh dari ekspektasiku. Saat itu, semuanya terasa indah. Tiada yang lebih indah selain mengetahui bahwa ada seseorang yang juga menyayangi kita bukan? Tapi kenyataan itu di satu sisi juga membuatku dirundung kegalauan. Kami berada di posisi yang sama. Masih banyak hal yang ingin kami kejar dan raih sendirian. Masih banyak urusan yang ingin kami selesaikan. Memang benar, terkadang tidak semua hal itu harus diucapkan, karena bisa membuat hati terluka. Beberapa hal dibiarkan menjadi rahasia hingga waktu yang kan menjawab sendiri. Tapi segala perasaan inilah konsekuensi yang harus kujalani atas perbuatanku itu. Dan aku tidak perlu menyesalinya karena semuanya telah terjadi.

Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanyalah memasrahkan semuanya pada kehendak Ilahi. Terkadang kami terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran kecil karena perbedaan sudut pandang. Tapi untuk urusan yang satu ini kami berpikiran sama. Jika memang kami berjodoh, pasti akan selalu ada jalan bagi kami untuk akhirnya bersama. tetapi jika tidak, biarlah Allah memilihkan orang yang lebih baik kami masing-masing.

Galau? Baper? Tentu saja ada. Apalagi bagi seorang perempuan yang memang lebih sensitif untuk urusan seperti ini. Tapi, I have found a way to move on. Kehidupan yang didepan mata inilah yang harus kujalani saat ini. Termasuk komitmenku dengan mimpi-mimpiku yang harus kupenuhi. Cinta itu rasional. Kalau cinta itu sendiri tidak bisa dimengerti atau justru membuat rumit, maka bisa jadi itu bukan cinta yang kita butuhkan.

Bagiku, cukup sampai disinilah kami saling mengetahui satu sama lain. Cukup tahulah kami tentang kenyataan perasaan kami satu sama lain. Kelak jika memang Allah berkenan, pasti kan ada waktunya bagi kami untuk bertemu dan lebih mengenal satu sama lain.

Finally, let Allah do the rest 😀

0

Teruntuk Kami Para Anak

Kemarin, di sebuah angkot yang sesak, aku melihat pertengkaran. Seorang anak yang sedang kesal dengan ibunya. Sebelum mereka masuk angkot, aku sudah melihat raut kekesalan itu di muka si anak. Sebelah kiriku masih ada cukup space. Sang ibu meminta si anak untuk duduk di space yang kosong itu. Tapi si anak menolaknya dengan keras dan memilih duduk di kursi “panggung”. Dan sang ibu-lah yang akhirnya duduk di sebelahku.

Sepanjang perjalanan, tanpa sengaja aku memperhatikan si anak yang sedang kesal ini. Demi sedikit penghormatan, baiklah aku panggil dia “teteh”, karena menurut perkiraanku dia dua atau tiga tahun lebih tua dariku. Teteh ini terlihat sibuk dengan handphone-nya. Aku sedikit mendengarnya bergumam, “mendingan ke jakarta aja urang”. Dari caranya berpenampilan, menurutku dia sudah cukup mapan dengan keuangannya sendiri. Dia terus melihat layar handphone-nya. Berkali-kali dia meng-klik sesuatu dan berkali-kali itu juga aku melihat rasa kesalnya terpancar jelas. Sepertinya semakin dia berkutat dengan handphone-nya, semakin dalam rasa kesal itu.

“awas ya, tanggung jawab lho kalau nanti nggak ada yang mau temenan sama aku.” Aku mendengar si teteh berkata demikian kepada ibunya. Dan selepas dia berkata seperti itu, si teteh pun mengalihkan pandangannya ke jalan raya. Membelakangi ibunya.

Perjalanan angkot akhirnya sampai di sebuah perempatan yang macet. Tepat ketika angkot itu berhenti, si teteh turun dari angkot. Ibunya segera menyusul turun. Dan ketika si teteh membayar angkot, “bayar sendiri”, dia berkata pada ibunya. Sedetik kemudian si teteh sudah berjalan cepat meninggalkan ibunya yang sedang membayar angkot. Dan dengan berlari-lari kecil, sang ibu menyusul teteh yang sudah menghilang di antara kemacetan lalu lintas.

Pak sopir angkot, seperti halnya aku, dan sebagian penumpang lainnya, hanya bisa tergeleng-geleng melihat kejadian itu.

***

Ada kata-kata yang cukup sering kudengar tentang perilaku anak dan hubungannya dengan orang tua. Katanya, perilaku anak itu berkaitan dengan bagaimana orang tua mendidiknya. Mungkin kata-kata itu ada benarnya jika anak tersebut masih kecil. Tapi bagi seorang anak yang secara usia sudah dianggap dewasa, kata-kata itu sudah tak sepenuhnya relevan. Karena si anak sudah bisa memilih bagaimana dia akan melalui sisa hidupnya.

Aku tak habis pikir dengan si teteh yang dengan mudahnya menunjukkan kekesalannya itu. Tentu aku tidak berhak berkomentar mengenai perasaan seseorang. Seperti dia, aku dan juga anak-anak lainnya tentu pernah atau mungkin juga sedang kesal dengan orang tuanya. Permasalahannya adalah bagaimana menyikapi kekesalan itu.

Orang tua adalah sepasang manusia yang diutus Tuhan untuk membesarkan kita. Karena Tuhan sayang kita, Dia tak membiarkan kita hidup sendirian. Sebelum kita bisa menghadapi semua tantangan kehidupan, dibalik punggung mereka-lah kita berlindung. Lantas, apalah hak kita untuk marah sedemikian hebatnya kepada mereka? Apa hak kita untuk mengatakan kepada seisi dunia betapa kita sedang kesal kepadanya?

Aku jadi teringat apa yang pernah dikatakan Ahmad Dhani (walaupun dalam banyak hal aku tidak setuju dengan cara pandangnya, untuk hal ini aku sependapat). Dia pernah bilang di suatu acara talkshow bahwa semakin kita dewasa waktu kita itu tidak banyak. Semakin kita dewasa, pembagian waktu 24 jam itu jadi makin kompleks. Sekarang ketika lagi nyusun skripsi, serasa waktu 24 jam itu cepat sekali. Mungkin sekarang aku belum bekerja, tetapi ketika nanti aku sudah bekerja, waktu 24 jam itu jadi semakin berharga. Termasuk waktu bersama orang tua. Sebisa mungkin di sisa-sisa umur kita yang sudah kepala dua ini, hiasilah pertemuan atau perbincangan bersama orang tua itu dengan hangat. Kalau ada masalah dengan orang tua, ya marilah coba diselesaikan baik-baik. Kalau kita memang bukan tipe anak yang so sweet, atau belum bisa ngasih apa-apa ke orang tua (seperti aku misalnya), cukup berbakti sajalah kepada orang tua. Sepanjang orang tua tidak menyuruh kita ke jurang maksiat, kita wajib untuk berbakti kepadanya.

Kembali lagi, waktu semakin sedikit. Kita tidak pernah tahu apakah orang tua yang pergi terlebih dahulu meninggalkan kita atau malah sebaliknya. Tapi yang jelas, sebagai para anak, marilah kita buat hari-hari kita ke depan bersama orang tua dengan penuh suka cita. Sudah cukuplah rambutnya memutih karena usia dan bukan karena dipusingkan oleh kelakuan kita.

0

Dia Yang Selalu Duduk di Trotoar

Hampir setiap pagi aku melihatnya terduduk di depan kantor perusahaan telekomunikasi itu. Dia tidak duduk di depan pintunya persis seperti patung. Dia duduk bersila di trotoar.

Karena posisinya itu, hak-ku sebagai pejalan kaki terampas. Dia memonopoli sepetak trotoar itu. Dasar pengganggu. Ingin rasanya aku memperingatkannya. Tapi setelah aku pikir-pikir, untuk apa pula aku mengatakannya? Karena aku pun tidak yakin isi kepalanya masih berfungsi dengan baik.

Walaupun begitu, tidak sedikit juga orang-orang yang nekat berjalan melewatinya. Tepat dihadapannya. Meski aku merasa isi kepalanya sudah tidak berfungsi, biar bagaimanapun dia tetap lebih tua dariku. Aku tidak bisa mengabaikan etika yang satu ini.

Setiap pagi, dia terduduk dengan seragam dinasnya. Kerudung kecil warna biru, kaos lengan pendek, dan celana selutut. Dia juga memasang wadah mangkok plastik tepat didepannya. Oh, baru kali ini aku tahu, rupanya isi kepalanya maish berfungsi. Dia masih memiliki kesadaran akan butuhnya uang. Sesekali kulihat orang-orang menaruh uang di wadahnya.

Aku tidak pernah memberinya uang. Aku hanya kasihan melihatnya. Memang benar kata Eyang Pram, kasihan adalah perasaan orang yang tidak bisa berbuat. Baik aku dan dia sama-sama membutuhkan uang dan sama-sama kekurangan. Jadi, sesama orang kekurangan kasihan saja yang bisa dilakukan.

Suatu ketika, rasa kasihan itu perlahan memudar dan berganti menjadi peduli. Aku ingin berbagi rezeki dengannya walau hanya sedikit. Tapi tiba-tiba, ketika aku hampir melewatinya, betapa kagetnya aku, dia berteriak-teriak. Aku tidak bisa mendengar jelas teriakannya. Sepertinya dia berkata dalam bahasa yang tidak aku ketahui maknanya. Tapi karena perbuatannya itu, niatku untuk berbagi rezeki menjadi hilang. Dan berubah menjadi takut. Aku tahu bahwa aku tidak perlu takut jika aku tidak berbuat kesalahan. Tapi untuk urusan satu ini aku memang takut.

Dia tidak hanya berteriak-teriak. Terkadang dia memukulkan batu pada kepalanya berkali-kali. Sesekali dia tersenyum tanpa sebab. Pernah juga dia bersujud. Mungkin isi kepalanya memang masih berfungsi. Samar-samar mungkin dia teringat dengan masa lalunya dan Tuhan yang telah menciptakannya. Mungkin dia memang telah melalui masa-masa yang berat yang tak sanggup dipikulnya. Sehingga berakhir seperti sekarang ini.

Aku dan dia masih sama-sama orang asing yang tidak saling mengenal. Namun, setiap aku melewatinya, aku sering berpikir jahil dan mengira-ngira, seperti apa cerita kehidupan masa lalunya. Apakah dia sudah berkeluarga? Bagaimana dengan suami dan anak-anaknya? Apakah dia mengalami hilang ingatan dan tidak bisa kembali kepada keluarganya? Atau dia dibuang oleh keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab namun cukup menghidupkan pagi hariku.

0

Ya Allah, Inikah Wajah Islam Itu?

Anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci, orangtuanya lah yang menjadikannya islam, nasrani, atau majusi. Begitulah bunyi salah satu hadits Rasulullah. Aku lahir dari orang tua yang beragama islam. Maka, orang tuaku mengenalkanku kepada satu Tuhan yaitu Allah dan mendidikku dengan iman Islam.

Ketika kita masih kecil, atau setidaknya sebelum akil balig, peran orang tua dalam keyakinan agama anaknya sangatlah besar. Sadarkah kalian, darimana kalian mengenal Tuhan yang selama ini kalian sembah, jika bukan dari orang tua kalian? Siapakah yang mengenalkan Allah kepada kita jika bukan orang tua kita? Maka beragamanya kita ketika kita masih kecil adalah template dari orang tua kita. Atau seperti yang pernah ku dengar yaitu istilahnya agama warisan. Given.

Sayangnya, keimanan bukanlah sesuatu yang dapat diwariskan. Dia harus dicari, dipahami, diyakini, untuk kemudian berubah menjadi perbuatan. Boleh dibilang, selama kuliah aku mengeksplorasi keimananku. Aku mengeksplorasi agamaku. Aku ingin memahami Islam dan melihatnya dari dekat. Meskipun itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Karena banyaknya aliran-aliran ataupun ideologi pergerakan yang berbeda-beda dari setiap aliran.

Aku belajar bahwa islam adalah agama kedamaian dari teman-teman tarbiyah. Aku memahami islam sebagai sebuah ideologi dari HTI. Aku menemukan arti keterbukaan pemikiran dan bahwa muslim harus cerdas dari sosok Gus Dur. Aku menemukan kefitrahan Islam melalui karya-karya Cak Nun. Pada akhirnya aku melihat wajah Islam yang berbeda-beda. Dari cara berpakaian hingga cara bersikap. Asal masih mengimani rukun Iman dan menjalankan rukun Islam, tidak penting bagi ku mana yang benar dan mana yang salah.
Aku tidak mampu menyelami semua keragaman tafsir itu. Pengetahuanku juga masih dangkal tentang pendalaman-pendalamannya. Tapi satu hal yang pasti keragaman tafsir ini nampaknya belum membuahkan hasil bagi dunia Islam.

Karena dunia Islam yang kukenal saat ini adalah dunia nomor sekian. Zakat ada untuk menjamin perputaran uang tapi kemiskinan justru mewarnai setiap kantong-kantong penduduk muslim. Belum lagi label terorisme yang disematkan oleh mereka-mereka yang tengah memerangi Islam dan cukup membuat umat fobia.

Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang ukhuwah islamiyah. Media sosial yang mestinya dimanfaatkan untuk mengeratkan ukhuwah malah jadi sarana unjuk gigi golongan siapa yang paling benar. Kaum muslim sibuk berteriak atas nama golongannya masing-masing. Saling tuding, fitnah, dan menyalahkan atas segala situasi hingga mereka sibuk untuk melihat persoalan umat saat ini. Hanya melahirkan perdebatan-perdebatan tanpa kesimpulan apalagi solusi. Keragaman tafsir ini tidak dipahami sebagai hasil sebuah pengkajian, aktivitas intelektual, serta progresivitas. Tetapi terus dijadikan sumbu untuk saling terpecah-belah.

Ketika aku mempelajari Islam lalu kutemukan beraneka warna Islam, aku melihatnya sebagai wajah Islam yang beragam. Islam yang hidup oleh buah pemikiran para ulama dan cendekiawan. Tetapi melihat realita nasib umatku, aku mulai berpikir inikah wajah Islam yang sesungguhnya? Keragaman Islam itu ternyata hanyalah topeng yang indah dari wajahnya yang sebenarnya. Topeng yang menghalangi kita untuk melihat wajah yang asli. Aku berdoa semoga kelak ada tangan-tangan yang kuat untuk melepaskan topeng itu. Dan semoga aku termasuk didalamnya.

0

Kita sama-sama tahu. Walau tak pernah saling mengucap. Bahwa kita memiliki rasa yang indah itu. Kita saling memuji dalam diam. Kita saling merindu dalam mimpi. Kita saling mendoakan dalam sujud. Tapi tak pernahnya berbuah menjadi sebuah kisah.

Kita saling berharap untuk kemudian berhenti. Kita saling berjuang untuk kemudian melepaskan. Maka berpisah jadi nyata.

Rembulan sudah berganti ratusan kali. Namun terkadang angin malam masih bisikkan namamu. Gugusan bintang terangkai mengukir senyummu. Lalu sebuah tanya mengusik batinku. Adakah kau juga merasakannya?

0

Wadah Pembelajaran yang Tidak Hanya Belajar

Selama beberapa hari terakhir ini, di sela-sela mengerjakan Tugas Akhir aka Skripsi, ada hal yang tidak hentinya mengusik pikiran saya. Di waktu-waktu ini, sembari melihat realita keadaan organisasi mahasiswa di kampus saya yang sedang tidak sehat (kalau tidak ingin dibilang kacau), saya dihadapkan pada sebuah frasa “wadah pembelajaran”.

Kemarin malam, saya dan teman-teman di tim DPA (badan legislatif himpunan), mendiskusikan arah himpunan kami nanti kedepannya. Tentunya sebelum bergerak lebih jauh ke depan, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi kondisi saat ini. Apa yang salah pada kondisi saat ini, bagaimana memperbaikinya, bagaimana agar kesalahan tersebut tidak terulang lagi di masa mendatang, dan tak lupa apa yang ingin kita capai di masa depan.

Ketika tengah mendiskusikan keadaan masa kini, kami mendapat suatu hubungan antara dua variabel utama dalam himpunan yaitu massa atau anggota biasa dan stakeholder (saya gunakan stakeholder agar lebih umum cakupannya). Diantara keduanya ada program kerja (proker). Idealnya, Program kerja dibuat oleh stakeholder berdasarkan analisis kebutuhan massa. Akan tetapi, banyak program kerja yang tidak terlaksana atau terlaksana tapi minim partisipasi massa. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah massa sendiri yang menginginkan adanya proker ini? kurang lebih seperti ini isi hati nurani para stakeholder.

Di titik ini, situasi ini, ada suatu pendapat di diskusi kami yang secara tidak langsung menyalahkan massa. Bahwa kegagalan suatu proker disebabkan massa yang wacana (atau wacini kalau istilah di kampus saya). Massa yang banyak mau tapi enggan untuk bertindak. Namun pendapat ini pun ada tandingannya bahwa massa tidak bisa disalahkan. Logikanya, ketika di situ ada kekuasaan maka kekuasaan itulah yang lebih banyak menanggung kesalahan yang ada, karena massa telah mempercayakan dirinya untuk dipimpin oleh sekumpulan orang tersebut.

Bagi saya yang pada saat itu di forum, memang logika itu benar. logika bahwa kekuasaan yang lebih banyak menanggung kesalahan dan massa tidak bisa disalahkan, bagi saya itu benar. akan tetapi, institusi atau lembaga yang sedang kita bicarakan ini, adalah organisasi mahasiswa. bukan negara yang memiliki kekuatan hukum lebih mengikat. organisasi mahasiswa ini hanya diikat oleh kemauan dan keinginan untuk berkumpul (karena rasanya terlalu munafik kalau saya sebut terikat oleh visi yang sama).

Dulu, ketika saya masih belum benar-benar bergabung dengan organisasi yang saya geluti sekarang ini, senior-senior saya berkata bahwa organisasi ini adalah wadah pembelajaran. Tempat kita “berlatih” dan “simulasi” menghadapi kehidupan pascakampus yang pasti berbeda dengan kehidupan kampus. Memang organisasi ini, organisasi mahasiswa, adalah wadah pembelajaran (dan saya sangat bersyukur ada di sini). Saya yakin para founding father (and mother) organisasi ini, dulu mendirikan organisasi ini tentu dengan tujuan mulia dan lebih dari sekedar tempat belajar. Ada visi besar yang ingin dicapai dan itu menjadi semangat dan alasan mengapa organisasi ini harus tetap ada.

Sayangnya terkadang frasa “wadah pembelajaran” ini menjadi tereduksi maknanya menjadi “yaudah salah nggak apa-apa, namanya juga belajar” bukannya “ini adalah kesempatan yang bagus buat mengembangkan diri, jadi aku akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh”. Kesalahan dalam kaderisasi, itu pasti, yang menyebabkan makna “wadah pembelajaran” itu menjadi bergeser. Akibatnya, melahirkan generasi-generasi yang menjalankan organisasi dengan setengah-setengah. Menjadi massa yang setengah-setengah maupun stakeholder yang setengah-setengah, sehingga organisasi-nya pun jadi setengah-setengah.

Padahal, kalau saja “wadah pembelajaran” itu dimaknai lebih, tidak hanya tempat belajar dengan slogan “berani kotor itu baik”, organisasi ini beserta orang-orangnya, tentu akan menjadi manusia-manusia yang lebih produktif dan bermanfaat. Kata orang, mahasiswa itu tempatnya idealis. Tapi dalam hal ini, saya ingin memandang mahasiswa sebagai pemuda. Saya contohkan, pemuda di Karang Taruna, di sekitar kosan saya. Para pemuda ini kebanyakan usianya nggak beda jauh dengan kita. Mereka tidak seberuntung saya dan teman-teman saya yang merasakan perkuliahan di kampus yang katanya favorit ini (atau mungkin di kampus manapun). Tapi, beberapa kali saya melihat mereka mengadakan acara lomba 17-an, kerja bakti kampung, termasuk berencana membuat taman pot tanaman di sepanjang jalan (yang ini saya belum tahu kelanjutannya) dan ada publikasinya ke warga beserta desain sederhananya.

Mungkin data saya memang masih sederhana, bahkan miskin karena baru menjumpai yang nyata di satu populasi karang taruna itu saja, tetapi dari sini saya tahu bahwa naluriahnya pemuda adalah mendinamisasi sekitarnya. Ini pemuda jaman sekarang lho, bukan pemuda jaman Bung Karno atau Soe Hok Gie, yang memang menghadapi tantangan keadaan negara yang genting. Apa yang dilakukan pemuda-pemuda karang taruna itu, sederhana, meramaikan kampungnya. Membuat kampungnya ramai, membuat interaksi antar masyarakatnya terbangun dan terjaga, sehingga terciptalah keamanan dan ketertiban kampungnya. Keamanan dan ketertiban adalah syarat mendasar sebuah tempat tinggal sebelum keindahan, prestige, ataupun pemanfaatan sumberdaya lingkungannya.

Persoalannya adalah, kalau mereka, para pemuda karang taruna itu bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi lingkungan tempat tinggalnya, bagaimana dengan kita, mahasiswa yang memiliki pola pikir intelektual, wawasan, serta jejaring yang lebih luas? Kalau kata Uncle Ben Spiderman, seiring kekuatan yang besar maka muncul tanggungjawab yang besar juga. Merasa terbebani? Merasa tertekan atau terpaksa? Semestinya tidak. Karena pada dasarnya, menjadi mahasiswa, itu pun jalan hidup yang telah kita pilih secara sadar. Merasa sendirian? Seharusnya tidak. Karena kita tergabung dalam sebuah organisasi.